Thursday, August 05, 2004

AFI vs IPA

"AFI vs IPA" (keterpurukan penghargaan dunia pendidikan Indonesia).
"Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004)".
dikutip dari milis IASI.

PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega, sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman atau nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya dengan pemenang Olimpiade Biologi Internasional. Usai mendapat 'penghargaan' dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebesar Rp 5 juta per orang, mereka tambah miris dengan masa depan mereka sendiri. Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun tawaran model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.

Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono, pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur (Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut Teknologi Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa yang orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus membayar uang masuk yang besarnya sekitar Rp 45 juta, tetapi untuk biaya kuliah serta biaya hidup selama di Bandung masih tetap menjadi pikirannya. "Ya, itulah yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan uang" katanya lirih. Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana bagi kelangsungan sekolahnya kelak. Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp 1,7 juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan pemantauannya lebih dari Rp 400.000 sebulan. "Tanpa adanya
beasiswa atau sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana," kata Mulyono.

Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa dalam Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya. Darmi mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat bingung karena ia diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp 11 juta.
Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan uang 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah, masih kurang Rp 6 juta lagi." Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA, harus berusaha keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak bila ia belajar di Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman orang tuanya di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja. Artinya, selama menuntut ilmu mau tidak mau ia harus indekos
karena tidak ada famili di sana.

Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar, tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma sebesar itu. Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak bangsanya yang telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, kapan bangsa ini mulai menghargai orang cerdas dan pintar?

---

Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau, Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto? Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media massa. Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat kabar, dihalaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran televisi dan radio kita.

Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya, pemberitaan soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'. Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa SMA membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru berakhir Kamis lalu. Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya
merebut medali perak dan perunggu.

Tapi, begitulah Indonesia. Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar. Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia
berduyun-duyun mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa ini.

Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini. Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama untuk
mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam jumlah 'secukupnya' saja.

Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda yang cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita memerlukan lebih banyak lagi orang pintar. Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi. Akibatnya, media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan 'keunggulan otak'. Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai 'kepintaran'. Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya manusia unggul di negara ini dipinggirkan.

Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan kualitas brainware ini.

Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak asing. Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade
Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS). Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari mengiming-imingi beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia, hanya
mengamati mereka dari jauh.

Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus?

Tidak apa-apa, kok. Ia cuma pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!

2 Comments:

At May 16, 2005 at 11:34 AM, Anonymous Anonymous said...

hm.. saya setuju sekali dengan saudara Riko,, memang, di negara kita sangat, sangat, sangat kurang perhatiannya di bidang pendidikan.. padahal pendidikan merupakan hal pokok yang harus dimiliki tiap orang bila ingin mencapai kemajuan teknologi dan peradaban...
hal seperti ini dapat diartikan bahwa masyarakat dan pemerintah kurang peduli terhadap pendidikan di indonesia.
saya juga melihat adanya fenomena peningkatan biaya pendidikan yang begitu tingginya, sehingga banyak masyarakat yang berekonomi menengah ke bawah tidak dapat menikmati pendidikan. saya rasa ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah, agar pendidikan masyarakat kita bisa diperbaiki mutunya. tidak hanya orang kaya saja yang bisa sekolah.
pendidikan merupakan hal pokok yang perlu dimiliki agar kiat bisa mengarahkan ketrampilan,skills,bakat, dsb agar mencapai hasil yang baik.

 
At February 15, 2006 at 9:53 AM, Blogger gina said...

Hallo. Saya Gina.
Setelah melihat artikel Anda, saya benar2 menyayangkan dengan keadaan tersebut. Kita bangsa Indonesia seharusnya malu dengan keadaan ini. Kebetulan saya sebagai orang yang bergelut di dalam pendidikan. Walaupun saya masih dalam proses studi. Tapi melihat fenomena itu saya sendiri bingung, apa saja yang dihargai oleh bangsa kita? kita lebih senang berkhayal daripada bekerja keras secara nyata. Itulah potret suram kehidupan bangsa kita. Memalukan dan sangat memalukan. Bangsa model apa ini?...Mudah2an kita cuma berdoa agar kelak suatu hari nanti kita tidak menyia-nyiakan adik2 kita yang telah berjasa menyelamatkan bangsa ini. Oya, visit my blog ok..

 

Post a Comment

<< Home